Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Maret 2019

Pemilu 2009 Versus Penderita Keaksaraan Fungsional


 


Tidak sampai dua bulan lagi, pesta demokrasi akbar Indonesia alias Pemilu 2009 akan berlangsung. Seluruh pihak yang terkait dengan penyelenggaraan Pemilu telah melakukan berbagai persiapan dengan berbagai perubahan untuk sebuah perbaikan. Salah satu perubahan yang cukup nyata adalah bergantinya sistem coblos menjadi sistem centang. Perubahan coblos menjadi centang lebih terkait pada cara pelaksanaan sehingga dengan melakukan simulasi hal tersebut tentu akan bisa teratasi

Perubahan lainnya yang perlu disoroti adalah perubahan format kertas surat suara pemilu. Biasanya, kertas suara mencantumkan nama dan foto calon legislatif (caleg) sehingga pemilih bisa mengenali calon wakilnya untuk DPR-RI dan DPRD Tk I dan II berdasarkan nama dan foto. Untuk Pemilu 2009 Komisi Pemilihan Umum (KPU) sepakat mengubah format kertas suara hanya dengan mencantumkan nama caleg saja tanpa foto, kecuali kertas suara untuk pemilihan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Sejuta Harapan di Pundak Wakil Rakyat


 


JASMERAH, jangan sekali-kali melupakan sejarah, saya sengaja mengawali tulisan ini dengan meminjam istilah yang pernah diucapkan oleh Soekarno, mantan orang nomor satu di Indonesia sekaligus penguasa Orde Lama.

Dalam bidang apa pun membaca dan mempelajari sejarah akan sangat membantu dalam mencari dan menentukan arah dan pedoman tindakan pada masa kini. Demikian juga halnya ketika menentukan arah pembangunan bangsa saat ini.

Dalam perjalanan panjang sejarah pergerakan Indonesia, para elit bangsa telah memperlihatkan andil dan kontribusi nyatanya dalam pergerakan. Lahirnya pergerakan nasional Indonesia merupakan bukti nyata sumbangsih mahasiswa yang notabenenya adalah kaum terpelajar yang juga menjadi kaum elit menengah.

Jumat, 03 Juli 2015

Sekilas Mengenal Istana Kepresidenan Bogor (Bogor Presidential Palace)





Oleh: Doni Marlizon, S.S

(Alumni Diklat Pengangkatan Arsiparis Tingkat Ahli Tahun 2012 di Pusdiklat Kearsipan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Jl. H. Djuanda No. 62 Bogor Jawa Barat)
 
Berkunjung ke Kota Bogor kurang lengkap rasanya jika tidak singgah dan menikmati sejuknya udara di Kebun Raya Bogor. Kebun Raya Bogor yang lokasinya tidak jauh dari Terminal Bus Baranang Siang itu akan memanjakan anda dengan koleksi tumbuhannya yang sangat beragam. Tidak salah jika Kebun Raya yang dibangun pada masa kolonial Belanda itu menjadi pusat Penelitian Botani di Indonesia. Di areal Kebun Raya Bogor itu pulalah berdirinya Istana Kepresidenan Bogor. Istana yang sarat dengan peristiwa-peristiwa bersejarah semenjak zaman kolonial hingga sekarang.
 Istana Kepresidenan Bogor terletak di Jalan Ir. H. Juanda No. 1 Kota Bogor Propinsi Jawa Barat, sekitar 60 kilometer dari Kota Jakarta. Luasnya sekitar 28,86 hektar dan berada pada ketinggian 290 meter di atas permukaan laut.
Keberadaan Istana Kepresidenan Bogor berawal dari keinginan Gubernur Jenderal Belanda yakni G.W. Baron Van Imhoff untuk mencari tempat yang berhawa sejuk di luar Kota Batavia (sekarang Jakarta). Pencarian lokasi berhawa sejuk yang dilakukan Baron Van Imhoff dikarenakan cuaca dan hawa Kota Batavia yang dirasa terlalu panas dan ramai sehingga tidak cocok menjadi tempat beristirahat. Pada tanggal 10 Agustus 1744 ia menemukan sebuah tempat di Kampoeng Baroe yang menurutnya sangat cocok untuk membangun tempat peristirahatan (pasanggrahan) karena lokasinya bagus dan strategis.

Sabtu, 15 Maret 2014

MENGAJI; Di Waktu Luang atau di Waktu Nan Diluangkan


Oleh: DM. Sutan Zainuddin

Mengeja huruf demi huruf, ayat demi ayat, juz demi juz dan tanpa terasa tibalah saatnya melantunkan doa khatamil qur’an. Bangga, bahagia, bercampur dengan haru. Senyum mengembang bersama air mata nan meleleh diluar ambang sadar. Padahal khatam tersebut mungkin saja bukanlah khatam nan perdana melainkan khatam untuk kesekian kalinya. Khatam personal boleh jadi telah berulang kali dicapai. Namun kali ini ada haru nan berbeda karena khatam tidak berdasarkan egois diri tetapi didasari oleh kekuatan bersama dalam metode One Day One Juz (odoj).

Komunitas One Day One Juz menyadari bahwa kemungkaran nan teroganisir dengan baik bisa menumbangkan kebaikan nan tercerai berai. Menyikapi kondisi tersebut, sekumpulan anak muda Indonesia berusaha menghimpun kekuatan tilawah menjadi sebuah kekuatan besar nan terorganisir. Akhirnya, secara perlahan Komunitas Odoj terus berkembang seiring dengan makin banyaknya umat muslim nan bergabung untuk berpartisipasi dalam mewujudkan gerakan one day one juz di tanah air nan tercinta ini.

Sabtu, 15 Februari 2014

ONE DAY ONE JUZ (ODOJ) MENYONGSONG INDONESIA EMAS



Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Tahun 2014 disebut-sebut sebagai tahun politik karena pada tahun ini akan diadakan pemilihan pemimpin bangsa masa depan, baik wakil rakyat dan juga presiden. Diperkirakan hampir 50 juta pemilih dalam pemilu 2014 adalah pemilih pemula yang berasal dari penduduk usia muda. Hasil dari tahun politik tentu akan menentukan wajah bangsa Indonesia lima tahun mendatang dan akan berdampak terhadap perkembangan bangsa dalam jangka waktu yang lebih panjang. Sebagai tahun politik, sesungguhnya tahun 2014 merupakan momentum perubahan bangsa ke arah yang lebih baik, lebih bermartabat, serta lebih berkarakter. Harapan tersebut hanya bisa terwujud jika seluruh komponen bangsa mau bersungguh-sungguh melakukan perbaikan, terutama perbaikan pola pikir, karakter dan kepribadian para pemimpin.
Penting untuk kita ingat bahwa banyak ahli memperkirakan dalam rentang lima tahun mendatang bangsa Indonesia diperkirakan akan berada pada masa ‘keemasan’. Masa Indonesia emas tersebut ditandai dengan terjadinya ledakan penduduk usia produktif dan menurunnya jumlah anak-anak dan lansia yang notabene akan menjadi beban anggaran negara. Namun ledakan penduduk usia produktif tersebut tidak akan memberikan dampak positif jika kualitas mereka berada dibawah rata-rata. Bahkan keberadaan mereka bisa menjadi malapetaka kependudukan sehingga ledakan penduduk usia produktif sebagai bonus demografi akan berlalu dengan sia-sia.

Minggu, 17 Maret 2013

Aksi FPI dan Gerakan Padri di Minangkabau


DM. Sutan Zainuddin, S.S

Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Akhir-akhir ini berbagai tindakan kekerasan seakan telah menjadi kejadian biasa dinegeri kita yang dikenal memiliki masyarakat nan sopan santun dan ramah tamah. Kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat saat ini begitu mudah tersulut emosi dan melakukan aksi kekerasan. Pelaku tindakan kekerasan tidak lagi terbatas pada kelompok tertentu melainkan telah merambah ke berbagai kalangan. Saat ini pelaku aksi kekerasan mulai dari gerombolan geng motor, ormas, sampai pada aksi koboi aparat penegak hukum. Miris memang, namun begitulah yang kini terjadi dinegeri kita.
Salah satu pelaku tindakan kekerasan yang akhir-akhir ini cukup menyita perhatian publik adalah aksi yang dilakukan oleh Ormas Front Pembela Islam (FPI). Akan tetapi, aksi yang dilakukan oleh FPI memberikan dampak yang berbeda jika dibandingkan dengan aksi yang dilakukan oleh kelompok lainnya. Jika aksi kekerasan yang dilakukan oleh geng motor dominan menuai caci maki dari masyarakat maka aksi FPI lebih memunculkan pro dan kontra. Hal itu sangat wajar karena aksi yang dilakukan oleh FPI rata-rata lebih mengarah kepada upaya pemberantasan kegiatan maksiat yang terjadi ditengah-tengah masyarakat namun tidak ditindak tegas oleh aparat penegak hukum.

Sabtu, 25 Agustus 2012

PERMAINAN TRADISIONAL NAN MAKIN LANGKA

.
Oleh: Dila Afriani, S.Pd

Sebuah mobil pick-up melaju dengan kecepatan sedang. Di bak terbuka mobil duduk beberapa orang dengan sikap siaga. Setiap mereka memegang senjata terkokang yang pelurunya siap dimuntahkan kepada siapa saja yang mereka inginkan. Mereka tidak peduli yang menjadi sasaran peluru mereka itu juga memegang senjata atau tidak. Mereka terlihat merasa gagah dengan senjata itu. Mereka juga bahagia setelah melepaskan tembakan, buktinya mereka tertawa-tawa usai menembak.

Sementara itu, di sudut-sudut rumah pemukiman rakyat juga bersiaga beberapa orang. Mereka juga bersenjata. Mereka mengintai kendaraan yang membawa rombongan bersenjata tadi. Begitu kendaraan itu lewat, maka.. dor.. dor.. mereka mulai menembak lalu lari bersembunyi di balik bangunan dan batang pohon terdekat guna menghindari peluru lawan sambil mengokang senjata. Tembak menembak pun terjadi dengan sengit. Rata-rata mereka memegang senjata jenis shotgun yang tiap kali usai menembak harus dikokang dulu sebelum memuntahkan pelurunya lagi. Lainnya, menggunakan senjata jenis pistol. Usai kendaraan yang menjadi sasaran tembak telah lewat mereka kembali bersiaga untuk melakukan serangan terhadap kendaraan berikutnya.

Jumat, 13 Juli 2012

PENDIDIKAN DAN CERMINAN PEMIMPIN MASA DEPAN



 Oleh: Dila Afriani, S.Pd


Pada Perang Dunia II, setelah kota Nagasaki dan Hiroshima hancur lebur oleh bom atom sekutu maka Jepang pun dipaksa mengaku kalah. Akibatnya, Negara Jepang sangat terpukul dan terpuruk. Hanya saja keterpurukan Jepang tidak berlangsung lama karena Kaisar Jepang bergerak cepat dengan tekad untuk bangkit dan kembali membangun Jepang. Dalam upaya bangkit, ternyata yang menjadi perhatian serius Sang Kaisar bukanlah berapa jumlah prajurit yang selamat perang. Bukan pula tentang berapa orang tokoh-tokoh penting dan orang-orang kaya yang masih tersisa, melainkan berapa jumlah guru yang masih hidup. Pada masa bangkit dari keterpurukan itu, peran guru ternyata sangat penting bagi Negara Jepang dan pada akhirnya keberadaan guru memang menjadi kunci sukses kebangkitan Negara Jepang.
Apa yang dilakukan Kaisar Jepang pasca kekalahan pada Perang Dunia II memang sangat beralasan. Kondisi Jepang yang telah kalah perang tentu tidak akan mampu bangkit jika hanya mengandalkan kekuatan pasukan yang masih tersisa. Perekonomian yang terpuruk juga tidak akan bisa kembali stabil jika semata-mata mengandalkan orang-orang kaya dan tokoh-tokoh penting. Jepang hanya bisa bangkit oleh para guru karena merekalah yang mampu mencerdaskan anak-anak Jepang untuk mengubah nasib bangsanya. Keberadaan guru akan mampu melahirkan kembali pasukan-pasukan hebat, pengusaha-pengusaha sukses, dan tokoh-tokoh penting yang akan menjadi pemimpin Jepang masa depan. Serta yang utama, para guru tentu akan melahirkan guru-guru muda sebagai pewaris tugas dan peran guru-guru tua untuk membentuk generasi tangguh berikutnya. Kepercayaan Kaisar Jepang terhadap guru terbukti dengan bangkit dan suksesnya Jepang menjadi negara kecil yang maju hingga sekarang.

Jumat, 15 Juni 2012

KISAH JILBAB HATI

Aisyah Zhafira Zainairfa
.
Oleh: Dila Afriani, S.Pd

Ada seorang perempuan yang dikenal taat beribadah. Ia kadang menjalankan ibadah sunnah. Hanya satu kekurangannya. Ia tak mau berjilbab. Menutup auratnya. Setiap kali ditanya ia hanya tersenyum dan menjawab, “Insyaallah. Yang penting hati dulu yang berjilbab.” Sudah banyak orang yang menanyakannya maupun menasehatinya. Tapi jawabannya tetap sama.

Hingga di suatu malam…

Rabu, 13 Juni 2012

Perjuangan Si Miskin Menggapai Ilmu



Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Pendidikan adalah hak semua anak bangsa karena mencerdaskan kehidupan bangsa adalah salah satu amanat  yang tercantum dalam batang tubuh UUD 1945. Untuk memberikan hak anak bangsa itu pemerintah telah berupaya menetapkan berbagai kebijakan. Kebijakan-kebijakan tersebut mengalami perubahan silih berganti mengiringi silih bergantinya pejabat yang mengurusi bidang pendidikan. Hasilnya, saat ini telah ada wajib belajar bagi anak bangsa tetapi hanya sampai jenjang sekolah menengah atas.

Membaca Singgalang Jumat, (8/6/2012) dengan judul Gemi berangkat ke USU, Erni ke UI yang mengabarkan tentang perjuangan anak bangsa dari keluarga kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi membuat saya merinding. Kenapa tidak, begitu nyatanya ketimpangan perjuangan memperoleh pendidikan antara si miskin dengan si kaya.

Sabtu, 02 Juni 2012

Cinta Itu Seperti Menunggu Bis Saja

Saat berkunjung ke ANRI, April 2012

 Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Dulu, sekitar empat tahun yang lalu, ketika saya membuka email, saya meihat satu pesan dari seorang sahabat. Email tersebut sepertinya diforward kepada saya, subyeknya sesuai dengan judul tulisan ini yakni Cinta Itu Seperti Menunggu Bis Saja. Awalnya, kehadiran email tersebut saya abaikan saja karena saat itu saya sedang tidak ingin membaca sesuatu tulisan yang berkaitan dengan kata-kata cinta. Jika meminjam istilah anak muda zaman sekarang, agaknya saat itu saya sedang galau sehingga hanya ingin melakukan sesuatu yang bersifat religius tanpa cinta. 

Beberapa bulan setelah itu, tiba-tiba saya ingin sekali membuka email tersebut dan membacanya dengan tuntas. Usai membaca, ternyata tak cukup sekali, saya mengulang lagi membacanya sampai berkali-kali. Lantas, saya mencoba menyelami makna nan tersimpan dalam cerita itu. Ketika itu saya menyadari bahwa andai email itu saya baca pada saat saya galau dahulu tentu kegalauan saya akan segera bisa saya tepiskan. Emailnya hanya berisikan hal yang sederhana, namun bagi saya cukup bermakna. Makna itu makin terasa kembali ketika saya mulai memikirkan masa depan untuk membangun jamaah kecil dalam ikatan suci. Nah, pada kesempatan ini saya mempostingnya disini untuk anda. Tidak ada maksud apa-apa, hanya sekedar berbagi.
***

Minggu, 27 Mei 2012

LIMA PRASASTI DI MUSEUM BALAPUTERA DEWA PALEMBANG

DM. Sutan Zainuddin, S.S

Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Prasasti adalah sumber sejarah dari masa lampau yang ditulis pada batu, logam, gerabah, kayu, batubata, porselin, dan lontar. Prasasti disebut sebagai sumber sejarah karena tulisan pada prasasti biasanya memuat informasi tentang berbagai hal, diantaranya ancaman atau sumpah kutukan, ekspensi, dll. Selain itu informasi yang terkandung dalam prasasti merupakan salah satu sumber yang menggambarkan kondisi masyarakat atau kerajaan pada zamannya.

Indonesia memiliki banyak sekali prasasti. Hal itu tidaklah aneh karena Indonesia merupakan daerah kepulauan yang pada masa lampaunya terdiri dari banyak kerajaan-kerajaan besar dan kecil. Misalnya Kerajan Kutai di pulau Kalimantan, Majapahit di pulau Jawa, Sriwijaya di Sumatera, Ternate dan Tidore di Maluku, dan banyak lagi kerajaan-kerajaan lainnya. Namun demikian tidak semua prasasti dari kerajaan tersebut dapat ditemukan oleh para ahli arkeologi dan ahli historiologi. Kemungkinan secara sederhananya, mungkin tidak semua kerajaan yang pernah ada di Indonesia memiliki prasasti atau para arkeolog dan sejarahwan yang belum berhasil menemukan prasasti-prasasti tersebut. Lainnya, tentu saja kerajaan-kerajaan yang ada setelah manusia mengenal kertas sangat kecil kemungkinan membuat prasasti.


Sabtu, 19 Mei 2012

MALU JO SOPAN NAN DIGERUS ZAMAN

 .
Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Perlahan namun pasti rasa malu generasi muda di Ranah Minang terus digerus oleh zaman. Kondisi tersebut jelas menimbulkan rasa prihatin ditengah-tengah masyarakat. Hanya saja rasa prihatin masih terbatas semata-mata pada rasa prihatin saja. Padahal semestinya, hal yang menimbulkan rasa prihatin tersebut harus diminimalisir dengan tindakan. Tindakan perorangan jelas lemah dan tak akan mampu memberikan efek luas. Sementara tindakan kelompok akan berpotensi memunculkan konflik yang ujung-ujungnya kelompok pejuang kebenaran dikalahkan dengan tudingan melanggar Hak Asasi Manusia alias HAM. Bahkan kebijakan pemerintah dalam rangka menjaga eksistensi rasa malu pada generasi muda sekalipun masih bisa digugat dengan alasan melanggar HAM.

Beberapa hari nan lalu, ketika saya pulang kampung dan berkunjung ke rumah amak (ibu), saya bertemu dengan mamak (panggilan di Minangkabau kepada saudara laki-laki ibu). Ia bercerita tentang pengalamannya berkunjung ke Kota Padang. Awal ceritanya hanya komentar tentang perkembangan Kota Padang pasca genpa 30 September 2009. Kemudian berlanjut pada cerita tentang apa yang ia rasakan ketika berkunjung ke salah satu obyek wisata di Kota Padang yakni Pantai Padang.

Selasa, 08 November 2011

Qurban Tak Sekedar Bagi-bagi Daging

.

Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Hari Raya Idul Adha sering disebut sebagai Hari Raya Qurban. Selain itu, ada pula yang menyebutnya dengan Hari Raya Haji. Ragam sebutan untuk Hari Raya Idul Adha itu lebih didasai oleh rangkaian kegiatan yang ada menjelang dan sesudah pelaksanaan Shalat Idul Adha.

Sebutan sebagai Hari Raya Qurban oleh masyarakat didasari adanya kegiatan penyembelihan hewan qurban usai dilaksanakannya Shalat Idul Adha secara berjamaah. Pelaksanaan penyembelihan hewan qurban sesungguhnya merujuk pada apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS bersama dengan anaknya Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim AS yang pada awalnya sangat mendambakan seorang anak sebagai penerus perjuangannya menegakkan agama tauhid memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai anak. Dan, Allah SWT mwngabulkan doa Nabi Ibrahim AS dengan lahirnya Nabi Ismail AS. Namun, ketika Nabi Ismail AS telah beranjak remaja, Allah SWT mwnguji keimanan dan kesabaran Nabi Ibrahim AS dengan perintah menmyembelih Nabi Ismail AS sebagai qurban. Awalnya Nabi Ibrahim AS merasa ragu dengan perintah nan datang lewat mimpi itu karena ia berfikir mungkin saja itu godaan Iblis laknatullah. Namun setelah mimpi itu datang berulang, baru Nabi Ibrahim AS yakin dan segera mempersiapkan diri untuk menyampaikannya kepada Nabi Ismail AS.


Minggu, 09 Oktober 2011

Makna Dalam Sebuah Cerita Usang

.

Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S

Seminggu yang lalu, ketika saya menuju Kota Padang, penumpang travel yang duduk di sebelah saya mengobrol disepanjang perjalanan dengan anaknya. Mereka mengobrol tentang keseharian dan sesekali berkelakar tentang persoalan hidup yang harus dihadapi. Begitu akrab, dan obrolan mereka mengalir begitu saja seolah-olah tidak ada rahasia antara mereka. Bagi saya keakraban antara orang tua dan anak seperti itu tidaklah begitu istimewa, biasa saja, namun ketika saya melihat kondisi masyarakat dikekinian apa yang dilakukan si Bapak terhadap anaknya itu ternyata bisa dikatakan sebagai sesuatu nan langka. Sehingga, meski pada awalnya saya mengabaikan saja obrolan mereka, namun akhirnya fikiran saya tergelitik juga karena sesuatu yang sederhana yang dilakukan si Bapak pada anaknya itu menjadi luar biasa karena mengandung makna.

Memang, jika dilihat perkembangan prilaku masyarakat pada masa kekinian, baik masyarakat tua maupun generasi muda, menunjukkan gejala-gejala yang menjauh dari tata nilai masyarakat ketimuran nan memiliki nilai-nilai moral dan etika dalam keseharian. Hubungan antara para tetua dengan generasi mudanya seakan terpisah sehingga transfer nilai-nilai nan bersumber dari pengalaman hidup makin lama makin hilang. Nilai-nilai saling hormat-menghormati bisa dikatakan punah, dan sosok teladan yang berwibawa dan mampu menenangkan masyarakat pun entah dimana kini. Padahal untuk membangun generasi nan berkarakter tentu generasi itu harus mengetahui karakter lokal mereka itu sendiri.


Senin, 19 Oktober 2009

Menulis Itu Keterampilan Berbahasa

Oleh: Kingdon181

Menulis adalah salah satu bagian dari keterampilan berbahasa. Artinya, seseorang yang disebut sebagai orang yang terampil berbahasa jika ia juga terampil menulis. Dengan demikian, seseorang yang menyatakan dirinya sebagai ahli bahasa idealnya mahir menulis.

Kemampuan menulis merupakan satu bagian penting dari keterampilan berbahasa disamping kemampuan mendengar, menyimak, dan berbicara. Keterampilan menulis sangat penting untuk dikuasai, terutama oleh kaum terpelajar. Hanya saja peminat keterampilan menulis masih sangat kurang. Dari sekian juta masyarakat Indonesia, masih didominasi oleh manusia-manusia yang lumpuh menulis. Bahkan kalangan terpelajar sendiri masih banyak yang 'alergi' untuk menulis. Ketika hal tersebut dipertanyakan maka bermunculan berbagai retorika bahkan tuding menuding untuk mencari kambing hitam.


Jumat, 09 Oktober 2009

Malam-malam Istimewa Bulan Ramadhan

Kehidupan manusia sebagai makhluk yang memikul amanah sebagai pemimpin di muka bumi tidak terlepas dari keberadaan waktu. Begitu eratnya kaitan kehidupan manusia dengan waktu sehingga yang disebut kehidupan manusia itu adalah waktu yang dimilikinya. Manusia yang tidak memanfaatkan waktunya dengan baik akan termasuk pada golongan orang-orang merugi.

"Demi masa. Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran," (QS. Al-Ashr, ayat 1-3).


Selasa, 15 September 2009

Al- Quran: Referensi Utama Ilmu Pengetahuan

DM. Sutan Zainuddin, S.S

Al-Quran merupakan wahyu yang diturunkan oleh Allah swt kepada Muhammad saw melalui malaikat Jibril sebagai pedoman hidup manusia hingga akhir zaman. Al-Quran bukan hanya merupakan kitab yang mengajarkan aturan-aturan ibadah saja bagi manusia tetapi juga berisikan berbagai ilmu tentang pola dan sistem membangun kehidupan berumahtangga, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dari masa ke masa tak akan meminggirkan Al-Quran namun sesungguhnya merupakan penguat terhadap keberadaan Al-Quran sebagai kitab yang mengandung dasar-dasar ilmu pengetahuan. Al-Quran sangat erat kaitannya dengan ilmu pengetahuan. Hal itu terlihat dari ayat pertama Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw saja adalah perintah untuk membaca. Sementara perkembangan suatu ilmu pengetahuan tak akan luput dari proses membaca.


Selasa, 04 Agustus 2009

Jika Gaji Anggota Dewan Tak Lagi Mewah

Ilustrasi Majelis Permusyawaratan Rakyat     
Oleh: DM. Thanthar

Andai gaji dan tunjangan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) tidak lagi berjumlah lebih besar daripada penghasilan petani di pedesaan akankah antusiasme menjadi caleg masih tinggi?

Dalam sebuah obrolan lepas saya bersama kawan-kawan Komunitas Guwo pertanyaan seperti itu pernah muncul. Pertanyaan yang agak konyol tetapi ketika dibaca berulang kali malah menjadi sebuah pertanyaan yang menarik.

Ketika masa kampanye, rata-rata caleg memperlihatkan itikad baik mereka dengan memberikan bantuan kepada rakyat sehingga seolah-olah mereka adalah calon-calon wakil rakyat yang memiliki jiwa pengabdian dan rela berkorban untuk rakyat. Mereka rela mendatangi rakyat dan mengorbankan sebagian hartanya untuk membantu rakyat. Hanya saja, pasca pemilihan legislatif (pileg) banyak caleg yang menjemput lagi bantuan yang pernah diberikannya. Bahkan tidak hanya menjemput tetapi juga ada yang melakukan pembongkaran jalan yang dibangunnya pada masa kampanye.


SURAU; Lembaga Pendidikan Islam di Minangkabau

Oleh: DM. Sutan Zainuddin, S.S



Gambar: SurauTuo Kayu Jao di Solok,
Sumatera Barat
Surau dalam tulisan ini bukan hanya sekedar tempat belajar membaca Al-Quran seperti mushala atau langgar. Namun lebih dari pada itu surau akan lebih disorot sebagai sebuah lembaga pendidikan yang telah melahirkan sejumlah ulama-ulama terkenal yang mengharumkan Ranah Minang dengan memberikan kontribusi nyata terhadap perkembangan agama Islam. Perkembangan Islam yang dilakukan oleh para ulama hasil didikan surau tidak hanya terjadi pada wilayah yang sempit melainkan menembus batas regional nusantara.

Pada dasarnya, surau sebagai lembaga pendidikan merupakan bagian integral dari memori kolektif masyarakat Minangkabau. Akan tetapi, dalam perkembangan dan modernisasi pendidikan, pemahaman tentang surau mengalami pergeseran sehingga surau lebih dipahami dalam ruang lingkupnya yang sempit.

Secara umum, konsep surau di Minangkabau dapat dibagi kepada dua jenis yakni surau kecil dan surau besar. Surau kecil merujuk pada bangunan pelengkap rumah gadang yang didirikan oleh masing-masing kaum atau suku. Surau kecil biasanya difungsikan sebagai tempat tidur laki-laki di Minangkabau. Selain itu, juga menjadi tempat musyawarah kaum, tempat shalat, dan tempat anak laki-laki belajar ilmu beladiri silat. Berdasarkan fungsinya itu, surau kecil sering juga disebut sebagai surau kaum.

Berbeda dengan surau kecil, surau besar bukanlah merupakan bangunan pelengkap rumah gadang tetapi bangunan yang didirikan oleh individu dengan bantuan masyarakat untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran Islam. Dalam perkembangannya, surau besar inilah yang melahirkan ulama-ulama di Minangkabau.

Dalam penulisan selanjutnya, pembahasan akan lebih difokuskan kepada surau besar. Jadi kata surau yang akan digunakan kiranya dapat dipahami sebagai surau besar.

Ketika kita mengamati perkembangan Lembaga Pendidikan Islam di Sumatera Barat maka kita tidak akan menemukan lembaga pendidikan yang menggunakan kata surau. Padahal, sesungguhnya surau yang ada di Minangkabau serupa dengan pesantren yang ada di Pulau Jawa. Sistem pengajaran yang dilakukan oleh dua Lembaga Pendidikan Islam tersebut (surau dan pesantren) juga tidak jauh berbeda. Ketika masih dikelola secara tradisional keduanya menggunakan sistem halaqah. Belum ada meja dan kursi untuk siswa tetapi hanya duduk melingkari ulama yang menjadi guru. Saat dikelola secara lebih modern keduanya juga menggunakan fasilitas seperti meja, kursi, dan papan tulis. Bahkan lebih dari itu, mereka juga mulai mengeluarkan ijazah untuk setiap murid yang telah menamatkan pelajaran.

Dengan demikian, sebenarnya surau sebagai lembaga pendidikan masih ada di Sumatera Barat tetapi para pengelola lembaga pendidikan tersebut lebih memilih kata pesantren dari pada kata surau. Maka lahirlah berbagai pesantren sebagai lembaga pendidikan di Sumatera Barat di antaranya Pesantren Nurul Ikhlas, Pesantren Modern Terpadu Hamka, dan pesantren-pesantren lainnya. Namun secara fungsi keberadaan surau sudah bergeser dari lembaga pendidikan yang utuh menjadi lembaga pendidikan sebatas menuntut ilmu agama semata. Sementara itu, di nagari-nagari, surau berkembang dengan makna yang sempit dan hanya sebatas sebagai surau kecil.

Padahal, surau selain sebagai lembaga pendidikan juga merupakan salah satu identitas bagi masyarakat Minangkabau. Setiap orang Minangkabau biasanya kenal dengan kata surau walaupun tidak memahaminya secara mendalam. Jika demikian, kita tentu berharap akan muncul surau sebagai lembaga pendidikan di Sumatera Barat yang akan lebih memaknai identitas orang Minang dalam kehidupannya. Semoga.

Kingdon181 Cyber Area

Dream Motorcycle

Dream Motorcycle
Suzuki
Powered By Blogger