Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 September 2015

PUISI TANPA JUDUL



Cerpen DM. Thanthar

Pagi baru saja menyambangi bumi. Embun-embun juga masih betah bermain-main di ujung-ujung lancip rerumputan. Tapi, ku dapati, Dira sudah duduk termenung di tepian Danau Maninjau. Matanya memandang jauh ke tengah danau, seakan sedang mengharapkan sesuatu keluar dari dasar danau.

Rasa ingin tahu membawaku melangkah mendekatinya. Tapi Dira hanya acuh. Bahkan saat aku duduk di sampingnya pun ia tetap acuh. Padahal biasanya ia selalu antusias dengan keberadaanku. Jika sudah bersamaku, ia selalu bercerita tentang semua kisah yang pernah singgah padanya.

Ya, begitulah biasanya. Dira tidak pernah ragu bercerita tentang apa pun padaku. Aku rasa, mungkin karena ketika ia sedang bercerita aku selalu mendengarkannya dengan sungguh-sungguh. Aku memang tidak pernah memperlihatkan kebosananku padanya, walau terkadang ceritanya membuatku bosan juga.

Jumat, 03 Oktober 2014

“MAKTUB”




Cerpen DM. Thanthar

Senja telah menjelang, ketika lelaki itu menghentikan motornya di sebuah kedai kopi di tepi jalan. Dipesannya segelas kopi kepada seorang perempuan separuh baya yang ada di kedai itu. Dan, sambil menunggu, ia sulut sebatang rokok. Dia sengaja duduk dengan menghadap ke jendela kedai karena di bawah sana terbentang pemandangan indah sebuah danau.

Lelaki itu seolah terpukau oleh suasana senja. Bias jingga senja yang terpantul dari permukaan danau di bawah sana memang indah. Saking asyiknya menikmati keindahan itu, dia bahkan tidak sadar ketika kopi pesanannya telah berada dihadapannya. Begitu khusuknya lelaki itu menyaksikan perjalanan senja yang menjemput malam.

Tapi, sebenarnya, bukan hanya keindahan senja yang membuatnya terpukau. Ada sebuah kisah yang menyebabkan dia begitu. Janjinya kepada danau yang sedari tadi ia pandangi. Janji ketika ia akan pergi dulu, sepuluh tahun yang lalu.

***

Sabtu, 15 Maret 2014

KUNANG-KUNANG TIMUR


Cerpen DM. Thanthar



Sudah beberapa malam ini adikku yang bungsu bersikap rewel. Ia selalu meminta yang aneh-aneh kepada bunda. Dua hari yang lalu ia meminta dibelikan kembang api, padahal malam itu bukan malam lebaran juga bukan malam tahun baru yang biasanya ramai pesta kembang api. Dan, ketika permintaannya tidak bisa dipenuhi bunda ia menangis sejadi-jadinya.

Si bungsu memang masih kecil. Umurnya saja belum genap empat tahun tetapi watak keras sepertinya mulai tergambar dari perkembangan sikapnya. Ia suka memaksakan kehendak dan akan mengamuk hebat ketika yang diinginkannya tidak didapatkannya.

“Mungkin karena ia masih kecil,” pikir ku.

Untunglah bunda adalah orang paling sabar dan penyayang. Paling tidak jika dibandingkan dengan orang-orang yang pernah aku kenal. Bunda tidak pernah marah menghadapi sikap si bungsu. Paling-paling ia menghibur si bungsu dengan dongeng-dongeng yang selalu ampuh membuat si bungsu lupa dengan keinginannya. Biasanya si bungsu akan tertidur karena keasyikan mendengar cerita bunda.

Minggu, 03 Juni 2012

Maaf… Mak…!?


Cerpen DM. Thanthar

Nafas reformasi pun belum mampu mengatasi kebobrokan negeri ini. Keangkuhan tembok-tembok sosial yang memisahkan si kaya dengan si miskin makin mencakar langit. Akibatnya, orang-orang makin mudahnya menjual moral mereka hanya untuk mencari kekayaan, menumpuk-numpuk harta benda untuk suatu saat di pamerkan pada tamu-tamu yang berkunjung ke rumahnya, walaupun tetangganya akan mati kelaparan.
Semakin hari, semakin banyak makhluk yang disebut manusia itu terjerumus manjadi kaum pemuja harta, pemuja dunia, dan menjadi budak dari apa yang mereka ciptakan sendiri. Mereka seakan lupa akan kodratnya, lupa darimana mereka berasal dan kemana mereka akan kembali setelah masa hidupnya yang singkat berakhir. Agaknya, bagi mereka, setelah mati habislah perkara.
Aku tidak sepaham dengan mereka. Bagiku, persoalan hidup tidaklah semudah itu. Lingkaran hidup makhluk memang sederhana. Lahir, tumbuh menjadi anak-anak, remaja, dewasa, tua, dan kemudian mati. Kira-kira seperti itulah lingkaran kehidupan yang utuh. Kalaupun lingkaran kehidupan itu tidak utuh, maka tetap kematian yang menjadi muaranya.

Kingdon181 Cyber Area

Dream Motorcycle

Dream Motorcycle
Suzuki
Powered By Blogger