Kingdon181 Cyber Area

Rabu, 20 Mei 2026

Pendidikan Sekarang Cerminan Pemimpin Masa Depan

Dilla Afriani, S.Pd
.
Oleh: Dilla Afriani, S.Pd

Pada Perang Dunia II, Kota Nagasaki dan Hiroshima hancur lebur oleh bom atom sekutu sehingga Jepang pun harus mengaku kalah. Akibatnya, Negara Jepang sangat terpukul dan terpuruk. Namun demikian, Jepang tidak berlama-lama dalam keterpurukan. Kaisar Jepang bertekad untuk bangkit dan kembali membangun Jepang. Dalam upaya bangkit itu hal ternyata yang menjadi perhatian serius Sang Kaisar bukanlah berapa jumlah prajurit yang selamat perang. Bukan pula tentang berapa orang tokoh-tokoh penting dan orang-orang kaya yang masih ada, melainkan berapa jumlah guru yang masih hidup. Begitu pentingnya peran guru bagi Negara Jepang dan itu menjadi kunci sukses Negara Jepang.

Apa yang dilakukan Kaisar Jepang pasca kekalahan pada Perang Dunia II memang sangat beralasan. Kondisi Jepang yang telah kalah perang tentu tidak akan mampu bangkit jika hanya mengandalkan kekuatan pasukan yang masih tersisa. Perekonomian yang terpuruk juga tidak akan bisa kembali stabil jika semata-mata mengandalkan orang-orang kaya dan tokoh-tokoh penting. Jepang hanya bisa bangkit oleh para guru karena merekalah yang mampu mencerdaskan anak-anak Jepang untuk mengubah nasib bangsanya. Keberadaan guru tentu akan mampu melahirkan kembali pasukan-pasukan hebat dan pengusaha-pengusaha sukses. Hal itu terbukti dengan bangkit dan suksesnya Jepang menjadi negara kecil yang maju hingga sekarang.

Keputusan Kaisar Jepang yang menjadikan guru sebagai landasan untuk bangkit memang sangat tepat. Guru sebagai komponen penting dalam pendidikan memiliki ragam tugas dan peran. Peran guru, menurut WF Connell (1972), ada tujuh yakni:

1. Peran guru sebagai pendidik.
Peran sebagai pendidik adalah peran utama seorang guru. Peran ini sejatinya tidak terbatas atau dibatasi oleh dinding-dinding ruang dan kelas. Dalam hal ini guru mentransfer ilmu pengetahuan, keterampilan, dan beragam nilai-nilai kehidupan yang perlu diketahui oleh murid-muridnya. Peran ini akan bermuara pada motivasi anak-anak muridnya untuk berusaha menemukan sendiri ilmu pengetahuan itu sehingga mereka memiliki bekal melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya.

2. Peran guru sebagai model/teladan.
Peran sebagai model lebih mengarah pada peran sebagai sosok yang menjadi teladan bagi anak. Peran ini sangat penting karena akan menentukan keberadaan guru dalam kehidupan bermasyarakat. Peran ini menuntut guru harus memiliki komitmen dalam hidup. Nilai-nilai yang diajarkan guru di kelas harus sesuai dengan prilaku kesehariannya. Jika tidak ada kesesuaian antara nilai yang diajarkan dengan tindakan keseharian Sang Guru maka peran guru sebagai contoh teladan gagal dan akan berdampak pada prilaku dan karakter anak didik. Teladan yang baik akan mampu meminimalisir penyimpangan dan pelanggaran anak murid terhadap nilai, norma, dan aturan. Peran guru sebagai model atau teladan akan makin kuat jika dilakukan bersama-sama dengan orang tua murid dan masyarakat.

3. Peran Guru sebagai pengajar dan pembimbing.
Peran guru sebagai pengajar dan pembimbing merupakan peran untuk membantu anak didik menggali, menemukan, dan membangkitkan potensi positif yang dimilikinya. Guru melakukan bimbingan dengan tujuan meningkatkan kemampuan anak didik dalam mengembangkan potensi yang mereka miliki tanpa rasa terpaksa sehingga akan menghasilkan individu-individu yang mandiri dan produktif. Guru perlu memahami bahwa setiap anak memiliki sifat dan potensi yang berbeda sehingga terkadang cara yang harus dilakukan untuk membimbing juga harus berbeda. Sedapat mungkin guru harus mengenali sifat dan minat anak didik agar dapat memilih cara yang tepat ketika melakukan bimbingan untuk mengembangkan potensi dan minat mereka. Jika tidak mengenal sifat dan minat anak didik guru akan kesulitan dalam menjalankan perannya sebagai pengajar dan pembimbing.

4. Peran guru sebagai pelajar.
Guru perlu memahami bahwa proses yang terjadi di kelas adalah pembelajaran, bukan pengajaran. Artinya, yang ada di dalam ruangan kelas, termasuk guru, semuanya sedang belajar. Pemahamam seperti ini akan menumbuhkan suasana yang lebih hidup dibanding jika guru menempatkan dirinya sebagai sosok yang paling mengetahui dan menganggap anak didik sebagai gelas kosong yang akan diisi. Anak didik bukanlah gelas kosong melainkan gelas yang telah berisi dengan sistem nilai fitrah bawaan dari lahir. Dalam proses pembelajaran, keberadaan guru adalah sebagai tumpuan anak didik dalam menemukan kekuatan dalam dirinya. Ketika hasil belajar tidak sesuai dengan harapan maka itulah saatnya guru belajar yakni dengan mempelajari kondisi dan situasi kelas. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal guru tentu harus selalu mengembangkan diri dengan memperbanyak pemahamam tentang teori-teori yang akan dipraktikkan dalam tindakan kelas.

5. Peran guru sebagai komunikator terhadap masyarakat setempat.
Peran ini akan lebih terasa bagi para guru yang melakukan pengabdian di daerah terpencil. Dalam hal ini, guru tidak hanya memberikan pendidikan kepada anak didik tetapi juga memberikan pendidikan kepada masyarakat serta harus mampu menjadi sosok penggagas ide-ide yang membangun bagi masyarakat setempat. Peran ini akan menempatkan keberadaan guru sebagai tonggak utama perubahan di daerah tersebut.

6. Peran guru sebagai administrator.
Selain melakukan pendidikan, pengajaran, dan pembelajaran terhadap anak didik dan masyarakat yang ada di sekitarnya guru juga dituntut mampu bekerja dengan administrasi yang teratur. Administrasi sekolah adalah pengaturan dan pendayagunaan segenap sumber daya sekolah secara efektif dan efisien dalam penyelenggaraan pendidikan sehingga tujuan pendidikan di sekolah akan tercapai secara optimal.

7. Peran guru sebagai sosok yang setia terhadap lembaga.
Peran ini lebih menekankan kepada kesetiaan terhadap lembaga dan negara. Pendidikan itu adalah hak semua warga negara sehingga semua anak harus mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang sama. Untuk itu guru harus melakukan tugasnya sebagai abdi negara yang akan mencerdaskan semua anak bangsa yang ada dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Tujuh peran guru tersebut, jika terapkan dengan sungguh-sunggug oleh semua guru dan didukung oleh para pengambil kebijakan dibidang pendidikan, tentu akan mampu menghasilkan generasi masa depan yang tangguh. Jika mau belajar pada apa yang dilakukan oleh Kaisar Jepang pasca Perang Dunia II, tentu bangsa Indonesia juga bisa bangkit dan sukses menjadi negara maju. Negara Jepang dengan luas 377.444 km2 dan sumber daya alam yang tidak sekaya Indonesia saja bisa menjadi negara maju, kononlah negara besar seperti Indonesia yang kaya akan sumber daya alam.

Hanya saja, jika kita menginginkan Indonesia menjadi negara maju di masa depan, maka kita harus memulai membenahi pendidikan dari saat ini karena pendidikan sekarang adalah cerminan generasi yang akan datang. Kita harus memahami bahwa tidak semua anak bangsa memiliki kemampuan di atas rata-rata. Manusia cerdas di suatu negara biasanya hanya berkisar antara 5-10%, sedangkan sekitar 90% adalah mereka yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata. Artinya, jika selama ini dunia pendidikan kita asyik menciptakan anak didik yang cerdas dengan beban pelajaran yang sangat berat maka kini perlu kembali memperhatikan dan mengoptimalkan anak didik yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata. Beban pelajaran yang tinggi hanya akan membuat energi guru dan murid terbuang percuma karena yang mampu mengikuti pelajaran dengan baik hanyalah anak didik yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.

Kita harus menyadari bahwa meski pun volume kegiatan belajar mengajar dibuat makin tinggi tetap saja tidak akan mampu memaksa semua anak didik menjadi ahli pemikir dan ilmuwan. Kecerdasan tentunya bukan hanya potensi akademik saja melainkan juga meliputi potensi keterampilan, seni, olahraga, serta kegiatan non akademik lainnya. Dengan demikian, tidak dapat tidak, kita harus melakukan evaluasi terhadap sistem pendidikan yang selama ini diterapkan agar anak didik yang memiliki kemampuan di bawah rata-rata bisa dioptimalkan perannya dalam pembangunan bangsa yakni dengan membangun karakter sesuai potensi yang mereka miliki. Kita tidak dapat memungkiri bahwa jika bagus sistem pendidikan saat ini maka akan kuat pemimpin-pemimpin bangsa masa depan, kurang bagus sistem pendidikan saat ini maka akan lemah pemimpin-pemimpin bangsa masa depan. Kita yang ada pada masa kinilah yang menjadi penentu seperti apa kualitas pemimpin bangsa masa depan. Harapan kita tentunya memiliki pemimpin masa depan nan tangguh dan berkualitas dengan masyarakat nan berkarakter. Semoga.

Kemendikdasmen Perkuat Partisipasi Semesta, Entaskan Anak Tidak Sekolah di Agam dengan Program Relawan Pendidikan


Lubuk Basung (AGAM) - Pemerintah terus memperkuat kebijakan penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) melalui pendekatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Melalui Program Relawan Pendidikan Tahun 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI) mendorong keterlibatan komunitas untuk membantu menjangkau, mendata, hingga mengembalikan anak-anak ke layanan pendidikan yang sesuai.

Sebagai bagian dari penguatan program tersebut, Kemendikdasmen bersama pemerintah daerah melaksanakan pelepasan relawan pendidikan secara serentak di 10 kabupaten lokus Program Relawan Pendidikan Tahun 2026, yakni Kabupaten Sampang, Jawa Timur; Kabupaten Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan; Kabupaten Lampung Tengah, Lampung; Kabupaten Mimika, Papua Tengah; Kabupaten Maluku Tengah, Maluku; Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan; Kabupaten Agam, Sumatra Barat; Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatra Utara; Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh; serta Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pelaksanaan program pada tahun 2026 melibatkan 261 relawan yang tersebar di 10 kabupaten.

Pemerintah Daerah yang menjadi sasaran Relawan Pendidikan menyambut baik program Relawan Pendidikan tersebut, demikian juga Pemerintah Daerah Kabupaten Agam. Di Kabupaten Agam Provinsi Sumatera Barat pelepasan Relawan Pendidikan dilaksanakan di Aula Utama Kantor Bupati Agam, Selasa (19/5).

Bupati Agam yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam, Andri, S.T., M.T menyampaikan bahwa Pemda Kabupaten Agam sangat mengapresiasi dan menyambut baik Program Relawan Pendidikan yang diinisiasi oleh Direktorat PNFI Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Disampaikannya, Program Relawan Pendidikan sangat membantu pemerintah daerah memperluas penjangkauan layanan pendidikan hingga ke pelosok wilayah terutama di Kabupaten Agam yang saat ini masih dalam masa pemulihan pasca bencana alam. “Kami atas nama Pemerintah Kabupaten Agam melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Agam mengucapkan terima kasih dan dukungan terhadap Program Relawan Pendidikan di Kabupaten Agam yang difasilitasi oleh Direktorat PNFI Kemendikdasmen,” ujarnya.

Andri juga menuturkan jika penanganan ATS membutuhkan kerja sama lintas sektor dan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pemerintah daerah, kata dia, terus membangun kolaborasi dengan berbagai lembaga sosial dan masyarakat untuk mendukung kerja relawan pendidikan di lapangan. Ia juga menyebut tantangan terbesar dalam penanganan ATS adalah memastikan validitas data sebagai dasar penyusunan kebijakan dan langkah intervensi di daerah.

“Tantangan terbesar yang kami rasakan adalah masalah validitas data. Data ini sangat penting sebagai dasar untuk bergerak dan merancang kerja-kerja penanganan ATS. Karena itu, kami berkomitmen untuk terus memvalidasi dan memperbarui data kependidikan, terutama terkait angka anak tidak sekolah. Dengan bersama-sama kita hadir disini sebagai relawan mudah-mudahan angka Anak Tidak Sekolah di Kabupaten Agam segera kita turunkan," ujarnya.

Program Relawan Pendidikan merupakan bentuk implementasi Perpres Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) untuk memastikan terlaksananya wajib belajar dan pemerataan Pendidikan bagi semua anak bangsa. 

Relawan Pendidikan untuk Kabupaten Agam dilepas secara resmi oleh Direktur Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) Dr. I Gusti Made Ardana melalui layar zoom meeting. Kegiatan pelepasan Relawan Pendidikan juga dihadiri oleh Nashendri (Kabid Pembinaan PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kab. Agam), Kandy Supriatna (Tim Direktorat PNFI Kemendikdasmen), Reza Fahlevi (Kementerian Desa PDTT), dan Kemendagri yang diwakili oleh  Dinas Dukcapil Kabupaten Agam.

Setelah dilepas secara resmi, para relawan akan turun langsung ke lapangan untuk melakukan identifikasi dan verifikasi terhadap data by name by address sesuai dengan wilayah tugas mereka masing-masing. Kehadiran Relawan Pendidikan diharapkan bukan hanya sekadar menjalankan program semata tetapi juga membawa semangat kepedulian dan menyalakan kembali cahaya harapan para ATS di Kabupaten Agam. 

Direktur Pendidikan Nonformal dan Pendidikan Informal (PNFI), I Gusti Made Ardana, menegaskan bahwa relawan pendidikan memiliki peran penting sebagai garda depan dalam memastikan anak-anak yang belum terjangkau layanan pendidikan dapat kembali memperoleh hak belajarnya. “Program Relawan Pendidikan hadir sebagai bagian dari upaya penjangkauan berbasis komunitas. Relawan tidak hanya melakukan pendataan, tetapi juga memastikan anak-anak yang terjangkau dapat kembali terhubung dengan layanan pendidikan yang sesuai dan berkelanjutan,” ujarnya saat Pelepasan Relawan Pendidikan di Kabupaten Agam, Sumatra Barat.

Ia menyampaikan bahwa program tersebut merupakan salah satu strategi pemerintah dalam memperkuat sistem penjangkauan dan pengembalian anak ke layanan pendidikan, baik formal maupun nonformal. Program ini juga diarahkan untuk menyediakan data ATS yang akurat, mutakhir, dan terintegrasi sebagai dasar penyusunan kebijakan pendidikan nasional maupun daerah.

Dijelaskannya, selain melakukan pendataan, relawan pendidikan juga didorong untuk mengidentifikasi faktor penyebab anak tidak sekolah secara lebih mendalam, memetakan kebutuhan belajar anak, serta memperkuat advokasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pendidikan bagi setiap anak. “Kami berharap para relawan dapat membangun komunikasi yang baik dengan keluarga dan lingkungan sekitar anak. Keberhasilan program ini bukan hanya diukur dari jumlah anak yang terdata, tetapi dari berapa banyak anak yang benar-benar kembali memperoleh haknya untuk belajar dan memiliki harapan masa depan yang lebih baik,” tutur Made.

Selain itu, Made juga mengungkapkan bahwa program tersebut mengalami perkembangan yang signifikan dalam dua tahun terakhir. Pada 2025, Program Relawan Pendidikan menjangkau 4 kabupaten, 20 kecamatan, dengan melibatkan 105 relawan. Sementara pada 2026, cakupan program berkembang menjadi 10 kabupaten/kota, 50 kecamatan, dan melibatkan 261 relawan pendidikan. "Terjadi peningkatan yang sangat signifikan, baik dari sisi jangkauan wilayah maupun kekuatan relawan. Ini menunjukkan semakin besarnya kepercayaan, dukungan, dan kolaborasi berbagai pihak dalam penanganan Anak Tidak Sekolah,” ungkapnya.

Selanjutnya, ia turut menegaskan terkait penguatan Program Relawan Pendidikan sejalan dengan amanat Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah yang menempatkan penanganan ATS sebagai prioritas nasional.  “Data ini masih data awal dan perlu diverifikasi kembali di lapangan. Kami berharap melalui kerja para relawan pendidikan, anak-anak yang belum terjangkau layanan pendidikan dapat segera terdata dan dikembalikan ke satuan pendidikan, baik formal maupun nonformal,” tambah Made. 

Di sisi lain, salah satu Relawan Pendidikan Kabupaten Agam, Lailina Zarmi Putri, mengaku tertarik terlibat dalam program tersebut karena pengalaman organisasinya dalam mendukung pendidikan masyarakat secara swadaya. “Insyaallah kami ingin menyumbangkan pikiran dan tenaga dalam menjangkau yang belum terjangkau oleh pemerintah,” ucapnya.

Lailina juga menuturkan bahwa setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang layak karena pendidikan menjadi dasar penting dalam membangun kualitas kehidupan. Ia juga berharap berbagai kebijakan pendidikan ke depan semakin berpihak pada kebutuhan masyarakat, terutama bagi anak-anak yang hingga kini masih belum mendapatkan akses pendidikan yang memadai. “Dasar dari kehidupan kita adalah mempunyai ilmu. Kehidupan seseorang yang berilmu tentu akan berbeda dengan yang tidak berilmu. Ilmu bisa diperoleh melalui belajar, baik pendidikan formal maupun informal,” tuturnya.

Di Provinsi Sumatera Barat, Kabupaten Agam merupakan satu-satunya daerah yang ditetapkan sebagai lokasi sasaran pelaksanaan program Relawan Pendidikan dengan lokus pada lima kecamatan yakni Kecamatan Lubuk Basung, Kecamatan Tanjung Raya, Kecamatan Tanjung Mutiara, Kecamatan Ampek Nagari, dan Kecamatan Palembayan dengan jumlah relawan sebanyak 21 orang.

Relawan Pendidikan akan membantu menjangkau ATS usia 7-18 tahun, lalu menghubungkan mereka dengan layanan pendidikan formal maupun nonformal agar mereka kembali mendapat kesempatan belajar, kembali memiliki mimpi, dan kembali percaya bahwa masa depan mereka berharga. 

Program Relawan Pendidikan adalah inisiatif pemerintah untuk membantu anak-anak Indonesia yang masih berstatus Anak Tidak Sekolah (ATS), kategori Belum Pernah Bersekolah (BPB), Drop Out (DO), dan Lulus Tidak Melanjutkan (LTM). Program ini mengajak organisasi masyarakat dan komunitas lokal untuk berperan aktif melalui gerakan relawan, terutama di daerah khusus dan wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan.

Selain menjadi jembatan bagi anak-anak, Program Relawan Pendidikan juga membangun jaringan relawan yang terkoordinasi dengan sistem pemantauan digital. Dengan cara ini, kegiatan relawan bisa dipantau secara terbuka dan hasilnya lebih terukur. Harapannya, semakin banyak anak bisa kembali bersekolah, angka ATS menurun, dan hak pendidikan bagi seluruh anak Indonesia dapat terpenuhi. Program ini hadir untuk memastikan tidak ada anak yang tertinggal dari kesempatan belajar demi masa depan yang lebih baik. (zain)

Dream Motorcycle

Dream Motorcycle
Suzuki
Powered By Blogger