Kingdon181 Cyber Area

Selasa, 08 November 2011

Qurban Tak Sekedar Bagi-bagi Daging

.

Oleh: DM. Sutan Zainuddin

Hari Raya Idul Adha sering disebut sebagai Hari Raya Qurban. Selain itu, ada pula yang menyebutnya dengan Hari Raya Haji. Ragam sebutan untuk Hari Raya Idul Adha itu lebih didasai oleh rangkaian kegiatan yang ada menjelang dan sesudah pelaksanaan Shalat Idul Adha.

Sebutan sebagai Hari Raya Qurban oleh masyarakat didasari adanya kegiatan penyembelihan hewan qurban usai dilaksanakannya Shalat Idul Adha secara berjamaah. Pelaksanaan penyembelihan hewan qurban sesungguhnya merujuk pada apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS bersama dengan anaknya Nabi Ismail AS. Nabi Ibrahim AS yang pada awalnya sangat mendambakan seorang anak sebagai penerus perjuangannya menegakkan agama tauhid memohon kepada Allah SWT agar dikaruniai anak. Dan, Allah SWT mwngabulkan doa Nabi Ibrahim AS dengan lahirnya Nabi Ismail AS. Namun, ketika Nabi Ismail AS telah beranjak remaja, Allah SWT mwnguji keimanan dan kesabaran Nabi Ibrahim AS dengan perintah menmyembelih Nabi Ismail AS sebagai qurban. Awalnya Nabi Ibrahim AS merasa ragu dengan perintah nan datang lewat mimpi itu karena ia berfikir mungkin saja itu godaan Iblis laknatullah. Namun setelah mimpi itu datang berulang, baru Nabi Ibrahim AS yakin dan segera mempersiapkan diri untuk menyampaikannya kepada Nabi Ismail AS.

Sebagaimana yang termaktub dalam QS. As-Saaffat ayat 102.
Ibrahim berkata: "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah bagaimana pendapatmu!"
Ismail menjawab: "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."

Dahsyat memang keimanan dua makhluk Allah SWT tersebut. Begitu taatnya mereka terhadap perintah Allah SWT sehingga tanpa keraguan mereka siap melakukan apa saja termasuk mengorbankan nyawa demi mewujudkan perintah Allah SWT. Nabi Ibrahim AS mencontohkan sosok seorang ayah nan tegar dan demokratis. Setelah bertahun-tahun menunggu kehadiran seorang anak, begitu dikaruniai anak ia pun diperintahkan mengorbankan anaknya. Dan, ia membuktikan bahwa cintanya pada anak tidak akan pernah melebihi cintanya pada Tuhannya. Nabi Ibrahim AS sepenuhnya sadar bahwa anak yang dikaruniakan kepadanya adalah milik Allah SWT nan dititipkan padanya sehingga ketika Sang Pemilik meminta milikNya tak ada alasan untuk menolaknya.

Nabi Ismail AS menjadi contoh sosok seorang anak nan sangat taat dan berbakti pada orang tua. Demi memenuhi perintah Allah SWT ia merelakan dirinya untuk disembelih sebagai qurban oleh ayahnya. Jawabannya begitu mantap kepada ayahnya. Jawaban nan mencerminkan sosok remaja idaman setiap keluarga. Remaja tangguh dengan keimanan, ketaatan, dan kesabaran yang tak terbanding.

Allah SWT hanya menguji ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Kedua Nabi Allah tersebut lulus dalam ujian. Nabi Ismail AS yang telah berbaring dengan ikhlas untuk disembelih diganti Allah SWT dengan seekor kibas yang besar. Dan hal inilah yang dilaksanakan kaum Muslimin di dunia setiap merayakan Hari Raya Idul Adha.

Sebutan lain Hari Raya Idul Adha adalah Hari Raya Haji. Ini tentu terkait dengan adanya kegiatan Naik Haji ke Makkah sebagai perwujudan rukun Islam. Kegiatan Naik Haji ini juga merupakan bagian dari rangkaian kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

Apapun sebutan terhadap Hari Raya Idul Adha, nan jelas bagi masyarakat miskin Hari Raya Idul Adha adalah masa-masa memakan daging kambing atau sapi gratis. Namun demikian, penyembelihan hewan qurban hendaknya tidak hanya menjadi rutinitas serimonial spritual dan bagi-bagi daging qurban semata tetapi hendaknya memberi perubahan dan dampak positif bagi yang melakukan dan menerima qurban. Jika tidak akan seperti Nabi Ibrahim AS dan Ismail AS paling tidak mendekati kepribadian dan ketaatan dua sosok teladan tersebut sehingga memberikan dampak terhadap keluarga dan masyarakat di lingkungan tempat bermukim. Idul Adha, sesungguhnya memiliki dua makna yakni Habluminallah dan Hablumninanas. Kedua makna ini nan harus kita wujudkan dalam kehidupan bermasyarakat. Semoga.

Minggu, 09 Oktober 2011

Makna Dalam Sebuah Cerita Usang

.

Oleh: DM. Sutan Zainuddin

Seminggu yang lalu, ketika saya menuju Kota Padang, penumpang travel yang duduk di sebelah saya mengobrol disepanjang perjalanan dengan anaknya. Mereka mengobrol tentang keseharian dan sesekali berkelakar tentang persoalan hidup yang harus dihadapi. Begitu akrab, dan obrolan mereka mengalir begitu saja seolah-olah tidak ada rahasia antara mereka. Bagi saya keakraban antara orang tua dan anak seperti itu tidaklah begitu istimewa, biasa saja, namun ketika saya melihat kondisi masyarakat dikekinian apa yang dilakukan si Bapak terhadap anaknya itu ternyata bisa dikatakan sebagai sesuatu nan langka. Sehingga, meski pada awalnya saya mengabaikan saja obrolan mereka, namun akhirnya fikiran saya tergelitik juga karena sesuatu yang sederhana yang dilakukan si Bapak pada anaknya itu menjadi luar biasa karena mengandung makna.

Memang, jika dilihat perkembangan prilaku masyarakat pada masa kekinian, baik masyarakat tua maupun generasi muda, menunjukkan gejala-gejala yang menjauh dari tata nilai masyarakat ketimuran nan memiliki nilai-nilai moral dan etika dalam keseharian. Hubungan antara para tetua dengan generasi mudanya seakan terpisah sehingga transfer nilai-nilai nan bersumber dari pengalaman hidup makin lama makin hilang. Nilai-nilai saling hormat-menghormati bisa dikatakan punah, dan sosok teladan yang berwibawa dan mampu menenangkan masyarakat pun entah dimana kini. Padahal untuk membangun generasi nan berkarakter tentu generasi itu harus mengetahui karakter lokal mereka itu sendiri.

Kini, memang sudah sangat jarang kita lihat orang tua yang begitu akrab bercerita dengan anaknya. Bercerita tentang pengalaman dengan tutur yang tidak menggurui namun dalam cerita itu terkandung berbagai nilai-nilai yang sangat berguna bagi si anak. Misal, ketika orang tua bercerita tentang bagaimana ia ketika kecil, pagi sekolah dan siangnya membantu orang tua di sawah, ladang, atau berdagang. Bagaimana ia bermain dan menciptakan sendiri mainan dari bahan-bahan yang ada di sekitar lingkungannya. Dalam cerita-cerita itu tentu terkandung sebuah nilai perjuangan dan pengorbanan dalam menjalani kehidupan. Dan, juga terselip nilai kreatifitas, tanggungjawab, serta hormat terhadap orang tua.

Jika dirunut persoalan perubahan tersebut tentu kita harus merunut pula peristiwa dari masa ke masa lengkap dengan semua perubahan yang terjadi pada tiap zaman. Dengan demikian, akan terlihat bagaimana proses perubahan karakter itu terjadi dan apa-apa saja yang menjadi faktor pemicunya. Benarkah perkembangan teknologi informasi yang telah sukses mentransfer nilai-nilai baru yang menggerogoti sistem nilai tradisional? Atau Sang Penjaga sistem nilai tradisional itu sendiri nan tak kuat menjaga karena gagap akan teknologi informasi sehingga tak tau bagaimana cara membendung derasnya gelombang modernisasi nan menghantam sistem nilai tradisional? Atau mungkin juga Sang Penjaga ikut larut dan terbuai oleh perubahan yang terjadi itu sehingga luntur wibawanya sebagai panutan dan hilang rasa segan anak kemenakan.

Membahas masalah sistem nilai tradisional, saya jadi teringat cerita nenek saya dahulu. Dulu, kata beliau, ada seorang kakek yang oleh masyarakat dikatakan sinting alias kurang waras. Kakek itu selalu mengatakan hal-hal yang tidak bisa diterima akal sehat pada waktu itu. Konon si Kakek selalu berjalan menginjit seakan takut akan menginjak duri atau pecahan kaca yang akan melukai telapak kakinya. Ketika ditanya mengapa ia berjalan seperti itu, ternyata si Kakek bukan takut telapak kakinya terluka namun takut terinjak anak iblis. Dan, tentu saja orang tak percaya.

Akan tetapi, kata nenek lagi, ternyata ada dua hal yang dikatakan si Kakek sinting menjadi kenyataan pada masa kini. Pertama,celoteh si Kakek yang mengatakan bahwa bumi akan memiliki ikat pinggang yang meliliti tubuhnya. Jika dilihat pada masa kini mungkin bisa dikatakan maksud si Kakek sinting adalah rel kereta api yang ada di berbagai negara di belahan bumi ini. Kedua, si Kakek sinting mengatakan bahwa nanti orang di kampung akan bisa melihat langsung kejadian yang terjadi diseluruh muka bumi tanpa berpergian bahkan bisa berbicara langsung dengan orang yang berada di tempat yang jauh. Hal yang kedua ini agaknya maksud si Kakek sinting adalah televisi dan telepon atau handphone.

Selain itu, lanjut nenek lagi, si Kakek sinting juga sering mengatakan bahwa jagalah anak-anak gadis kalian karena nanti malu jo sopan akan hilang sehingga banyak perempuan yang hobi telanjang. Hal yang terakhir ini pun tammpaknya juga telah terjadi pada masa kini. Jika dahulu perempuan banyak nan risih ketika memakai pakaian ketat yang membuat lekuk tubuh mereka terlihat dengan jelas, sekarang malah mereka bangga dengan pakaian seperti itu. Jangankan lekuk tubuh, mempertontontan betis dan paha pun mereka seakan bangga. Naudzubillahimindzalik.

Agaknya, jika si Kakek sinting hidup pada zaman sekarang belum tentu ia akan dikatakan sinting karena semua ucapannya bisa diterima akal sehat dan sesuai dengan kenyataan yang ada sekarang. Lantas, apa itu bermakna bahwa fikiran orang-orang yang hidup pada masa sekarang sesuai dengan kesintingan si Kakek pada masa dahulu. Atau, jagan-jangan sekarang semua orang telah sinting seperti si Kakek. Hehe.

Terlepas dari gurauan di atas, agaknya semua perubahan itu perlu disikapi. Saat ini, nan bisa dilakukan hanyalah memperkokoh pondasi keluarga masing-masing dengan sistem nilai karena generasi sekarang adalah cerminan dari generasi sebelumnya dan generasi nan akan datang adalah cerminan dari generasi sekarang. Rapuh generasi sekarang maka akan lebih rapuh lagi generasi nan akan datang karena generasi sekarang adalah calon pemimpin keluarga di masa datang. Jika sekarang kita kuatkan sistem nilai (nilai etika, moral, dan spritual) pada tiap-tiap keluarga maka akan menguatkan generasi nan akan datang. Semoga.

Kamis, 16 Desember 2010

Jakarta oh Jakarta

.
Oleh: DM. Sutan Zainuddin

Jakarta itu ibukota negara. Larut malam begini masih saja deru kendaraan mengaung. Memang mobilitas penghuni ibukota sangat tinggi. Dan, kemacetan adalah pokok persoalan nan entah kapan bisa tuntas oleh pemimpin Jakarta. Kota Padang, jika dibanding dengan Jakarta tentu tak sebanding. Lahan di Jakarta nan sesak oleh gedung bertingkat, jalanan nan sesak oleh kendaraan, serta pembangunan yang begitu meluas sampai pinggiran jelas belum ditemui di Padang. Meski Padang pada zaman VOC sempat menjadi metropolitannya pulau Sumatera. Namun dalam hal angkutan umum rasanya Padang tidak kalah. Angkutan umum di Padang jauh lebih bagus tampilannya dibanding dengan yang ada di Jakarta. Angkutan kota dan bus kota (metromini) di Jakarta akan kalah bersaing dengan angkot dan bus kota yang ada di Padang.

Angkot dan bus kota di Kota Padang nan dihias begitu rupa plus musiknya bagaikan diskotik berjalan. Tampilan angkot dan bus kota di Jakarta jelas belum pantas bersanding dengan angkot ceper Kota Padang. Andai angkot dan bus kota yang ada di Jakarta beroperasi di Kota Padang mungkin para sopirnya akan sulit mendapat setoran.

Namun demikian, plus minus tentu ada dari kondisi itu. Jika angkot dan bus kota di Jakarta seperti angkot dan bus kota di Padang sangat mungkin kejahatan di angkutan umum akan meningkat. Pasalnya, dentuman musik keras dan balutan kaca film yang menyelubungi kendaraan umum seperti di Padang akan memberikan keleluasaan bagi para pencopet dan perampok untuk beraksi. Dentuman musik akan menyamarkan teriakan mereka yang menjadi korban sementara kaca mobil nan ditempeli kaca film akan menutupi pandangan orang dari luar.

Ah, apa pun kondisinya Jakarta tetaplah ibukota negara tercinta ini. Berbagai dinamika telah terjadi dan berbagai perubahan terus berlangsung. Andai saja sesekali waktu para pemimpin negeri ini menggunakan angkutan umum seperti angkot dan bus kota untuk berangkat kerja tentu mereka akan paham bagaimana penderitaan rakyat. Para pemimpin itu tentu akan melihat langsung ragam aktivitas rakyatnya. Tak dapat kita pungkiri, segala kesulitan hidup itu seolah2 telah menjadi jatah rakyat sementara segala kemudahan dan kemewahan adalah milik pemimpin. Jika para pejabat tingkat tinggi di negeri ini jarang terlambat masuk kantor itu mah wajar karena perjalanan mereka selalu mulus dengan pengawalan. Perjuangan mereka menuju tempat kerja tidak seberat perjuangan bawahannya dan warga kota menuju tempat beraktifitas demi mencari nafkah untuk menghidupi keluarga mereka. (dmt)

Selasa, 14 Desember 2010

Simpul-simpul Nan Longgar

.
Guwo News, (14/12) - Undang-undang nomor 43 tahun 2009 tentang Kearsipan menyatakan bahwa: Arsip adalah rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (pasal 1 ayat 2).

Demikian pengertian arsip menurut UU nomor 43 tahun 2009 yang keberadaannya merupakan penyempurnaan dari UU nomor 7 tahun 1971 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan. Begitu pentingnya arsip sehingga perlu dilakukan penyempurnaan payung hukum yang akan menjadi acuan dalam pemilahan, pengelolaan, pelayanan, serta penyimpanan arsip.

Pada berbagai acara yang berkaitan dengan arsip akan sangat gampang kita mendengar pidato atau pun kata sambutan dari para pejabat eksekutif dan legislatif yang menyatakan bahwa keberadaan arsip harus benar-benar dijaga. Pentingnya menjaga arsip terkait dengan fungsinya sebagai memori kolektif suatu lembaga baik pemerintahan maupun swasta. Namun demikian, pidato indah dan manis tersebut biasanya hanya menjadi penawar pendengaran saja, malapeh hao sajo, atau sekedar lip service.

Kenyataannya, hingga saat ini rata-rata keberadaan arsip tidak seindah status sebagai rekam jejak masa lalu yang dianugerahkan kepadanya. Arsip, khususnya yang inaktif lebih menjadi sampah pada berbagai lembaga dan tidak ditata dengan baik. Bahkan, Kantor Arsip sekali pun masih juga keteteran mengelola arsip yang ada di unit kerjanya. Alasan klasik selalu menjadi pemicu terbata-batanya pembangunan depo arsip nan representatif. Kondisi ini sangat memprihatinkan karena jika arsip rusak maka itu juga bermakna kerusakan sejarah dan budaya.

Antisipasi terhadap hal itu hanya bisa dilakukan dengan memberikan pemahaman serta mendesak para pengambil keputusan dan penetapan anggaran untuk memfasilitasi tersedianya sarana dan pra sarana pengelolaan arsip. Jika ingin melakukan pengelolaan, perawatan, dan penyimpanan arsip yang baik maka keberadaan depo arsip merupakan harga mati. Betapa pun SDM nya bagus akan tetap saja tidak menjamin pengelolaan dan pelayanan arsip menjadi prima karena depo sebagai rumah arsip itu sendiri tidak jelas stanndar keamanan dan kelayakannya sehingga pelayanan yang cepat tepat dan akurat dalam pencarian arsip tidak akan tercapai. Jika tidak, maka tak perlu ribut ketika banyak dokumen yang tak bisa diketemukan dalam waktu singkat saat dibutuhkan atau bahkan hilang dan rusak.

Sesungguhnya, keberadaan arsip merupakan cerminan dari suatu pemerintahan. Carut marut pengelolaan arsip maka dapat dipastikan pemerintahan tersebut sedang sakit dan sistem koordinasinya pun carut marut.

Sabtu, 24 April 2010

Buat Apa Shalat..?!

Judul Buku : Buat Apa Shalat..?!
Penulis : Dr. Haidar Bagir
Penerbit : PT. Mizan Pustaka & Pustaka IIMaN
Tebal : 261 hlm
ISBN : 978-979-8394-93-5



Shalat seharusnya adalah wahana privat yang di dalamnya terjadi percakapan yang begitu mendalam antara seorang hamba dengan Tuhan nya. Secara harfiah shalat berarti do’a yang diyakini memiliki implikasi terhadap kehidupan manusia di atas bumi. Dalam buku ini kegiatan shalat itulah yang dipertanyakan oleh si penulis, dengan mengangkat judul Buat Apa Shalat?! Namun sesudah judul yang menarik itu dilanjutkan dengan kalimat kecuali Jika Anda Hendak Mendapatkan Kebahagiaan dan Ketenangan Hidup.

Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 45:
“Sesungguhnya Shalat itu amat berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,” (Al-Baqarah: 45).

Secara sederhana dapat dimaknai bahwa shalat hanya akan memiliki nilai jika dilakukan dengan khusyuk. Sementara sikap khusyuk hanya muncul sebagai konsekuensi kecintaan sekaligus ketakutan kepada Sang Khalik. Implikasinya, orang yang memiliki sikap khusyuk akan berupaya memusatkan seluruh keberadaan dirinya kepada kehadiran-Nya dan melepaskan/membersihkan dari apa saja selain Allah. Pendalaman akan korelasi shalat dengan kekhusyukan itulah yang bisa didapatkan pembaca dalam buku yang terdiri dari 261 halaman.

Dr. Haidar Bagir, yang merupakan penyusun buku ini, merupakan seorang yang memiliki concern terhadap tasawuf dan filsafat Islam. Pendekatan tasawuf dan filsafat Islam yang dilakukan penulis merupakan upaya untuk menampilkan shalat sebagai jawaban atas kebutuhan eksistensial dan intelektual manusia modern akan kebahagiaan dan pencerahan hidup.

Buku ini terdiri dari dua bagian (bab). Bagian pertama penulis lebih memfokuskan penjelasannya tentang hakikat dan makna shalat yang benar. Makna shalat yang benar dimaksudkannya sebagai sebuah rutinitas religius yang bisa melahirkan kebahagiaan dan pencerahan hidup, berikut konsekuensi komitmen sosialnya.

Pada bagian kedua, penulis menjelaskan tentang bagaimana shalat yang sebenarnya menurut para tokoh sufi dan filsuf. Selain itu buku ini juga memuat cuplikan dan tulisan beberapa tokoh, yakni: Al-Hujwiri, Ibn ‘Arabi, Abu Thalib Al-Makki, Jalaluddin Rumi, Imam Ghazali, Ibn Al-Qayim Al-Jawziyah, Syah Walilullah Al-Dihlawi, Ibn Sina, Ayatullah Khomeini, Muhammad Iqbal, dan Murtadha Munthahhari.

Bahasa yang digunakan oleh penulis cukup sederhana dan lugas sehingga menjadi mudah dipahami. Untuk memperkuat argumen yang dilontarkannya penulis menyertakan kutipan ayat Al-Qur’an dan Al-Hadist. Hanya saja penulis tak mencantumkan siapa yang meriwayatkan hadist-hadist yang dikutipnya sehingga pembaca tak mengetahui kualitas hadist tersebut. Meski demikian, secara keseluruhan, buku ini tetap menyuguhkan perluasan wawasan dengan tutur dan alur penyampaiannya yang menarik dibaca. (dmt)

Jumat, 12 Maret 2010

TAN MALAKA & GERAKAN KIRI DI MINANGKABAU

Judul Buku : Tan Malaka & Gerakan Kiri di Minangkabau
Penulis : Zulhasril Nasir
Penerbit : Ombak
Tebal : xxii + 223 hlm
Ukuran : 14x21 cm



Tan Malaka nan sering disebut sebagai ’Pejuang Revolusioner Yang Kesepian’ memang cenderung terabaikan dalam catatan lembaran sejarah di republik ini. Padahal sumbangsih tokoh asal Minangkabau yang memiliki nama asli Ibrahim dan bergelar Datuk Tan Malaka itu cukup banyak memberikan andil dalam dunia pergerakan di Indonesia.

Tan Malaka merupakan sosok nan memiliki banyak sisi untuk dikaji secara mendalam. Salah satu alasannya tentu karena tokoh ini – sampai sekarang pun – masih termasuk tokoh yang memiliki rekam jejak nan kontroversial. Dalam buku ini, penulis berusaha mengupas kisah perjalanan hidup Tan Malaka yang namanya cenderung terlupakan di tanah airnya sendiri meski sepak terjang pergerakannya mencakup wilayah Asia.

Fokus pemaparan yang tersaji dalam buku ini lebih kepada upaya menguak kaitan antara unsur-unsur egaliter Minangkabau dengan gerakan kiri yang dilahirkan oleh tokoh-tokoh pergerakan asal Minangkabau. Sebagai penguat nuansa keminangkabauan Tan Malaka maka penulis sengaja menguraikan kondisi geografis, sosial, dan budaya Minangkabau nan kental dengan unsur matrilineal dan berguru pada alam sekitarnya. Alam takambang jadi guru, demikian filosofinya.

Melalui buku ini penulis sepertinya hendak mengembalikan ingatan semua kalangan di tanah air ini, khususnya etnis Minangkabau bahwa Tan Malaka sangat layak untuk dihargai karena kiprah dan jasanya terhadap republik ini juga sangat besar. Bahkan Soekarno selaku presiden Republik Indonesia pada waktu itu juga mengakui kehebatan seorang Tan Malaka dan tak ragu memberikan testamennya kepada Tan Malaka bila ia selaku presiden tidak dapat menjalankan tugasnya.

Hal nan menarik dalam buku ini adalah adanya keterkaitan pemikiran ala barat dengan sistem Islam. Meskipun Tan Malaka dan kaum pergerakan kiri Minangkabau telah menggunakan dasar pemikiran barat namun sistem nilai Islam yang merupakan bagian dari kandungan alam Minangkabau tetap menjadi salah satu landasan pemikiran para tokoh nan diidentikan dengan gerakan kiri tersebut.

Paling tidak ada tiga hal nan menjadi pokok ulasan utama penulis dalam buku ini. Pertama, hubungan kerevolusioneran Tan Malaka dengan demokrasi alam Minangkabau; kedua, menjelaskan tentang adanya perbedaan ideologi antara Tan Malaka dengan tokoh pergerakan kiri lainnya; ketiga, mengkaji faktor kepeloporan orang Minangkabau sebagai pendorong pergerakan di tanah air dan di Semenanjung Malaya (Malaysia Barat dan Singapura). (dmt)
Loading...

Dream Motorcycle

Dream Motorcycle
Suzuki

Amazing Motorcars

Sports Cars